Pedofil di Jambi, Orang tua Patut Waspada Ponsel Anak


Jakarta, CNN Indonesia -- Kasus kejahatan seksual terhadap anak atau pedofil kembali menyita perhatian publik. Polda Jambi meringkus PN (28) yang diduga seorang pedofil. Sebanyak 87 anak laki-laki berusia 15-17 tahun menjadi korban.

Menurut Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Jambi, Ajun Komisaris Besar Kuswahyudi Tresnadi pelaku membuat akun Instagram palsu dan menampilkan diri sebagai wanita. Pelaku pun merayu korban untuk mengirim video dan gambar bugil. "Setelah dikirim, diancam. Kalau enggak mau mengikuti kemauan tersangka, video dan gambar anak-anak itu mau disebarkan," kata Kuswahyudi seperti diberitakan CNNIndonesia.com, Selasa (20/3).

Menanggapi kasus pedofil Jambi ini, psikolog Mira Amir mengatakan orangtua patut lebih awas terhadap penggunaan ponsel pada anak. Selain beri pengertian akan penggunaan, bisa jadi juga membatasi pemakaiannya.


"Mereka mungkin awalnya chat biasa, lalu video call, begitu sudah malam anak itu sudah enggak fully alert. Mungkin orang yang di seberang sana kamu berani enggak gini-gini. Ujung-ujungnya nanti video beredar dan tahu pas keesokan harinya," lanjut Mira, saat dihubungi CNNIndonesia.com, pada Selasa (20/3).

Sementara, anak dalam usia remaja, kata Mira, mengalami masa mulai paham akan tubuhnya. Mereka dalam masa banyak mencari tahu. Mungkin, kata Mira, mereka pikir ini lucu, tapi kemudian mereka tidak menyangka bahwa dampaknya akan bisa sejauh itu.

Apa yang dialami oleh anak-anak sebagai korban paedofil ini menurut Mira sebaiknya mendapat perhatian khusus dari orang tua. Sebab, trauma masa kecil membawa dampak besar saat mereka dewasa ketika trauma tersebut tak mendapatkan penanganan.

Dalam hal ini, orang tua diharapkan perannya dalam proses pemulihan anak, karena korban pedofil ini berada dalam rasa takut.

"Orang tua kalau ingin tahu, juga mohon jangan terlalu berlebihan. Ada anak yang dia ingin membuka semua, ada juga yang enggak merasa nyaman. Jadi keluarga harus menunggu kesiapan anak," katanya.

"Di samping itu, dikonfirmasi ke anak, apa perlu dibantu untuk pembatasan (penggunaan) gawai, apa ada masalah atau sumber lain."

"Tipe anak yang lama main gadget dialihkan atau disalurkan ke aktivitas fisik. Orang tua diharapkan bisa membawa mereka untuk terlibat dalam aktivitas fisik misalnya olahraga. Orang tua jangan membiarkan mereka sendirian," tambah Mira menyarankan.

Jam Malam

Ia juga memperingatkan orang tua untuk mengontrol penggunaan gadget atau gawai anak-anak mereka. Bisa jadi, misalnya dengan memberlakukan jam malam buat anak, terutama buat mereka dalam memegang gawai.

Mira mengatakan waktu di atas pukul 22:00 anak cenderung kesulitan mengontrol diri. Lebih lanjut lagi ia menjelaskan jam-jam ini anak tak begitu fokus dengan apa yang dia lakukan atau katakan.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »