Ini Rahasia Mathieu Flamini Jadi Pesepakbola Terkaya di Dunia


TEMPO.CO, Jakarta - Nama Mathieu Flamini tiba-tiba mencuat menjadi pesepakbola terkaya di Dunia versi majalah Amerika, Forbes. Eks pemain Arsenal dan AC Milan yang kini berseragam Getafe itu mengalahkan kekayaan milik Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi.

Forbes mengungkapkan bahwa Flamini memiliki aset hingga Rp 206,3 triliun. Jumlah itu mengalahkan aset Ronaldo sebesar Rp 8,4 triliun dan Lionel Messi Rp 3,1 triliun.

Lantas dari mana kah kekayaan Flamini itu? Jika dilihat dari pendapatannya di Getafe atau pun di bekas klubnya, tak mungkin pemain asal Prancis itu mendapatkan aset sebegitu besar.

Pendapatan terbesar Flamini ternyata berasal dari bisnisnya di bidang bio-kimia. Pesepakbola berusia 34 tahun itu merupakan pemilik perusahaan bernama GF Biochemicals yang memproduksi levulinic acid (LA), bahan kimia yang bisa mengolah sampah menjadi bahan bakar.


Bisnis Flamini dimulai pada 2008 silam saat dia bermain untuk AC Milan. Dia bertemu dengan Pasquale Granata, yang lantas jadi rekan bisnisnya. GF sendiri singkatan dari Granata - Flamini.

Setelah menyembunyikan perusahaannnya selama beberapa saati, pada 2015, Flamini, akhirnya blak-blakan. Dia membuka pernyataan ke media bahwa dia juga sedang berkonsentrasi ke bisnis tersebut.

"Selama tujuh tahun saya tak pernah memberitahukannya kepada siapa pun. Ketika saya hengkang ke Milan pada 2008 saya bertemu Pasquale, yang kemudian menjadi teman dekat saya dan kami selalu berpikir untuk melakukan sesuatu," ujarnya dalam wawancara dengan media Inggris The Sun pada 2015 lalu.

"Saya selalu dekat dengan isu soal alam dan penduli soal lingkungan, perubahan iklim dan pemanasan global. Pasquale juga memiliki minat yang sama, kami lantas mencari cara bagaimana bisa berkontribusi mengatasi masalah ini. Setelah beberapa saat kami pun menemukan soal Asam Levulinic," katanya.

GF Biochemichal bekerja sama dengan Politeknik Milan dalam riset soal LA. Mereka pun memiliki paten terhadap produk yang disebut sebagai disebut Departemen Energi Amerika sebagai satu dari 12 molekul potensial sebagai pengganti bahan bakar minyak bumi. Perusahaan itu, menurut Mathieu Flamini, diklaim sebagai perusahaan pertama dan satu-satunya yang memproduksi LA dalam skala industri.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

1 comments:

comments