Hari Puisi Sedunia, Penyair Indonesia yang Hidupkan Puisi hingga Kini


JAKARTA, iNews.id - Hari Puisi Sedunia atau World Poetry Day diperingati setiap 21 Maret, bersamaan dengan World Down Syndrom Day atau Hari Down Syndrom Sedunia. Hari Puisi Sedunia lahir berdasarkan keputusan UNESCO di Paris pada 1999.

Salah satu tujuan utamanya untuk mendukung keragaman linguistik melalui ekspresi puitis dan melestarikan bahasa yang terancam punah. Melansir dari situs United Nations (UN), Hari Puisi Sedunia tersebut juga dimaksudkan untuk mendorong kembali tradisi lisan resital puisi untuk mempromosikan pengajaran puisi, memulihkan dialog antara puisi dan seni lainnya, seperti teater, tari, musik, lukisan, serta mendukung penerbit kecil yang menghidupkan puisi di media, sehingga seni puisi tidak lagi dianggap sebagai bentuk seni yang ketinggalan zaman.

"Puisi adalah andalan tradisi lisan dan selama berabad-abad bisa mengkomunikasikan nilai-nilai terdalam budaya yang beragam," demikian fungsi puisi, dikutip dari situs UN.

Di perayaan Hari Puisi Sedunia, Indonesia juga memiliki penyair-penyair, baik senior maupun muda yang masih menghidupkan puisi di masa kini. Yuk, simak daftar penyair Indonesia yang dirangkum iNews.id, Rabu (21/3/2018).

Sapardi Djoko Damono

Pria kurus bertopi ini sangat dikenal dengan Hujan Bulan Juni. Sapardi merupakan penyair kelahiran Surakarta, Jawa Tengah yang aktif berpuisi sejak 1958 hingga hari ini. Karya yang terkenal dari penyair kelahiran 20 Maret ini, di antaranya Duka-Mu Abadi (1969), Sihir Hujan (1984), Hujan Bulan Juni (1994), dan Melipat Jarak (2015).

Joko Pinurbo

Joko Pinurbo atau sering dijuluki Jokpin merupakan penyair asal Sukabumi, Jawa Barat, yang puisi-puisinya terkenal dengan paduan antara ironi dan jenaka. Penyair yang aktif berpuisi sejak 1983 telah menerbitkan beberapa buku puisi yang popular, seperti Celana (1999), Telepon Genggam (2003), Tahilalat (2012), Baju Bulan (2013), dan Buku Latihan Tidur (2017).

Goenawan Mohamad

Goenawan Mohamad merupakan sastrawan yang tak hanya bergelut pada puisi. Ia juga pernah bergelut di dunia jurnalistik selama puluhan tahun. Karya-karyanya juga tak cuma puisi, tapi yang khas dari GM adalah Catatan Pinggir-nya. Namun, karya-karya puisinya dibukukan di Parikesit (1971), Interlude (1973), Asmaradana (1992), dan Misalkan Kita di Sarajevo (1998).

Aan Mansyur

Ini dia penyair modern yang populer hingga saat ini. Aan Mansyur adalah merupakan penyair asal Makassar yang aktif menulis novel dan cerita pendek. Kumpulan cerpen yang terkenal adalah Kukila (2012) dan novelnya Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi (2015). Sementara puisinya dibukukan di Melihat Api Bekerja (2015), Tidak Ada New York Hari Ini (2016), Sebelum Sendiri (2017), dan Cinta yang Marah (2017).

Beni Satryo

Beni Satryo merupakan penyair muda masa kini yang puisi-puisinya bernuansa satir, jenaka, sekaligus memuat komedi di dalamnya. Buku puisinya yang terkenal adalah Buku Pwissie Pendidikan Jasmani dan Kesunyian (2016).

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

1 comments:

comments